PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah berupaya memperkuat pasokan biomassa sebagai alternatif terhadap penggunaan batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah ini diharapkan dapat membantu menurunkan emisi karbon secara signifikan dalam sektor kelistrikan, yang menjadi isu penting di tengah krisis iklim saat ini.
Direktur Bioenergi PLN EPI, Hokkop Situngkir, menekankan perlunya upaya bersama dalam pemanfaatan biomassa. Hal ini harus dilakukan sejalan dengan kepatuhan terhadap regulasi, legalitas penggunaan lahan, serta tata ruang yang berlaku di Indonesia.
Untuk mendukung upaya tersebut, PLN EPI menggandeng lima mitra strategis sebagai penyedia biomassa untuk peningkatan cofiring di PLTU. Perjanjian Kerja Sama yang telah ditandatangani merupakan langkah konkret untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi terbarukan.
Komitmen dalam Memastikan Sumber Biomassa Berkelanjutan dan Legal
Hokkop menegaskan pentingnya memastikan bahwa seluruh pasokan biomassa berasal dari sumber yang legal dan tidak berkontribusi pada deforestasi. Hal ini tercermin dalam komitmen PLN EPI untuk menjaga keberlanjutan pasokan dan perencanaan yang matang terkait penggunaan lahan.
Dalam praktiknya, biomassa yang digunakan di PLTU saat ini masih didominasi oleh limbah dari sektor kehutanan, pertanian, industri, dan limbah perkotaan. PLN EPI berencana untuk mendorong pemanfaatan tanaman energi sebagai alternatif, namun tetap harus mengikuti prinsip keberlanjutan.
Penggunaan tanaman energi ini harus sesuai dengan aturan yang berlaku, termasuk izin lokasi dan kesesuaian pemanfaatan ruang. Hal ini penting agar tidak terjadi konflik dalam penggunaan lahan yang dapat merugikan lingkungan serta masyarakat.
Pentingnya Stabilitas dan Kualitas Pasokan Biomassa
Hokkop juga berfokus pada pentingnya stabilitas pasokan dan kualitas bahan baku biomassa. Ketersediaan bahan yang berkualitas menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan proyek pemanfaatan biomassa dalam jangka panjang.
Selain itu, kepastian keekonomian bagi para pemasok juga menjadi prioritas. Fasilitas produksi biomassa harus mendapat dukungan pembiayaan yang tepat agar nilai komersialnya tetap terjaga dan para pelaku industri dapat saling menguntungkan.
“Model bisnis yang transparan dan saling menguntungkan sangat diperlukan agar pemasok dan PLN dapat tumbuh bersama dalam ekosistem energi terbarukan ini,” imbuh Hokkop. Dengan pendekatan ini, diharapkan biomassa dapat menjadi sumber energi yang berkelanjutan.
Masa Depan Energi Terbarukan dan Tantangannya
Pemanfaatan biomassa sebagai bagian dari matriks energi terbarukan di Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil. Namun, implementasi ini tidak tanpa tantangan, terutama terkait dengan penyediaan bahan baku yang harus diatur dengan baik.
PLN EPI berpegang pada prinsip keberlanjutan dalam setiap langkah yang diambil. Upaya untuk menjaga agar pasokan biomassa tidak merusak lingkungan menjadi perhatian utama, sehingga proses produksi listrik dapat dilakukan secara bertanggung jawab.
Di tengah perkembangan teknologi yang terus meningkat, PLN EPI berkomitmen untuk terus berinovasi. Dengan mengikuti tren global dalam penggunaan energi terbarukan, Indonesia berpotensi menjadi contoh dalam transisi energi yang berkelanjutan.















