Program “Beras Haji Nusantara” yang diperkenalkan oleh Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menjadi langkah signifikan bagi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji di tahun 2026. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan pangan berkualitas, tetapi juga untuk memberdayakan produk dalam negeri di pasar internasional, khususnya di Arab Saudi.
Dalam pernyataannya, Irfan menekankan pentingnya kualitas beras yang akan disajikan kepada jemaah. Melalui spesifikasi premium dan fokus pada cita rasa, ia berharap setiap butir nasi yang disantap akan memberikan pengalaman terbaik selama menjalankan ibadah haji.
Tidak hanya berfokus pada kualitas, program ini juga berupaya untuk mendorong efisiensi dalam penyediaan pangan. Dengan melakukan perhitungan kebutuhan beras yang akurat, diharapkan tidak ada jemaah yang kekurangan asupan selama berada di tanah suci.
Strategi Penyediaan Beras Haji untuk Jemaah Haji 2026
Dalam konteks penyediaan, total kebutuhan beras untuk 205.420 jemaah haji reguler dan petugas mencapai 2.280 ton. Penghitungan tersebut didasarkan pada frekuensi makan yang tinggi selama masa haji, sehingga menuntut kesiapan logistik yang baik.
Jemaah haji diperkirakan akan menikmati nasi dalam jumlah yang cukup, yaitu sekitar 170 gram per kali makan. Ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kecukupan gizi para jemaah selama mereka menjalankan ibadah.
Harga beras yang ditargetkan juga menjadi salah satu perhatian utama. Pemerintah berupaya agar harga Beras Haji Nusantara bisa mencapai angka Rp 16 ribu per kilogram saat sampai di dapur penyedia layanan. Hal ini tentunya bertujuan untuk memberikan pilihan yang lebih terjangkau bagi jemaah.
Kualitas Beras Haji dengan Spesifikasi yang Ditingkatkan
Menhaj menjelaskan bahwa beras yang akan digunakan memiliki spesifikasi premium, yaitu beras panjang dengan tingkat pecahan maksimal lima persen. Ini bertujuan agar jemaah mendapatkan cita rasa yang lebih nikmat, mirip dengan nasi yang biasa mereka nikmati di Indonesia.
Dukungan terhadap produk dalam negeri menjadi salah satu tujuan utama dalam program ini. Dengan menggunakan Beras Haji Nusantara, pemerintah berharap dapat mendorong petani dan produsen beras lokal untuk meningkatkan kualitas produksi mereka hingga mendunia.
Selain itu, standardisasi mengharuskan setiap dapur penyedia layanan untuk mematuhi spesifikasi yang ditetapkan. Ini menjadi tantangan tersendiri, tetapi juga memberikan peluang bagi peningkatan kualitas makanan yang disajikan kepada jemaah.
Tantangan dan Langkah Implementasi Program Beras Haji Nusantara
Di balik berbagai tujuan mulia dari program ini, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah mekanisme penggunaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang memerlukan prosedur birokrasi yang jelas.
Selain itu, peralihan dari jenis beras berkualitas medium ke premium juga bukanlah hal yang mudah. Ini memerlukan kerjasama lintas kementerian dan lembaga untuk menciptakan sistem distribusi yang efisien.
Menhaj mengungkap bahwa untuk mengatasi tantangan tersebut, langkah konkret akan segera diambil. Pembentukan kelompok kerja lintas kementerian menjadi salah satu langkah awal untuk memastikan program ini berjalan sesuai rencana.














