Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya, peran perempuan dalam mengatasi isu air semakin penting. Perempuan, sebagai penjaga lingkungan dan sumber daya alam, memiliki potensi yang besar untuk menjadi agen perubahan dalam krisis air yang sedang melanda dunia.
Pada acara The Big Idea Forum bertajuk “Mothers of the Earth” yang diadakan di Museum Nasional Jakarta, Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air, mengungkapkan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk mengatasi krisis air global. Retno menegaskan bahwa jika perempuan diberi kesempatan, mereka dapat memimpin dengan baik dalam merespons tantangan ini.
Pemberian mandat kepada perempuan Indonesia sebagai utusan khusus PBB adalah bukti bahwa perempuan sudah menjadi bagian dari solusi. Dalam konteks ini, perempuan terbukti mampu berkontribusi signifikan dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDG), terutama yang berkaitan dengan air dan sanitasi.
Pentingnya Peran Perempuan dalam Mengelola Sumber Daya Air
Retno Marsudi menekankan bahwa perempuan memiliki kemampuan unik dalam menangani masalah lingkungan. Data menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam proyek-proyek ekologi dapat meningkatkan efektivitas hingga 6-7 kali lipat. Ini membuktikan bahwa suara perempuan sangat berharga dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan.
Sebuah studi dari FAO menyatakan bahwa akses setara terhadap sumber daya produktif bagi perempuan dapat meningkatkan hasil pertanian hingga 30%. Hal ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan tetapi juga kualitas hidup keluarga melalui gizi dan pendidikan yang lebih baik.
Contoh di India menunjukkan bahwa ketika perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan terkait proyek air, hasilnya jauh lebih baik. Berdasarkan data yang ada, proyek tersebut dapat meningkat hingga 62 persen. Ini menunjukkan bahwa perempuan dapat membawa perspektif yang berbeda dan solusi inovatif dalam mengatasi masalah air.
Tantangan Krisis Air Global yang Semakin Mengkhawatirkan
Krisis air saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia. Menurut Retno, bencana yang berkaitan dengan air menelan kerugian ekonomi hingga US$550 miliar sepanjang tahun 2024. Hal ini menggambarkan pentingnya segera mengambil tindakan preventif untuk mengatasi masalah ini.
Lebih dari 75 persen penduduk dunia diperkirakan akan merasakan dampak kekeringan pada tahun 2050. Retno juga menambahkan bahwa setiap harinya, anak-anak di bawah lima tahun meninggal karena kurangnya akses air dan sanitasi yang aman. Angka ini patut menjadi perhatian bersama kita.
Laporan lebih lanjut mengungkapkan bahwa satu dari empat orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. Situasi ini mendesak kita untuk bersikap proaktif dalam menyelesaikan masalah ini saat ini juga.
Pemberdayaan Perempuan sebagai Solusi Berkelanjutan
Pemberdayaan perempuan bukanlah sekadar pilihan, namun sebuah keharusan untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Retno menekankan bahwa ketika perempuan berada di garis depan dalam melindungi sumber daya alam, mereka tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga masa depan umat manusia.
Dalam konteks ini, kebangkitan perempuan merupakan langkah maju bagi planet kita. Retno berharap agar semua pihak terlibat dalam memperjuangkan kesetaraan hak asasi manusia dan pemberdayaan perempuan, sebagai langkah menuju keberlanjutan.
Dia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pemberdayaan perempuan. Hal ini akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat secara keseluruhan.
Acara The Big Idea Forum: Mothers of the Earth menghadirkan beberapa tokoh penting lainnya. Di antaranya, Ketua DPR RI Puan Maharani, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, serta banyak pemimpin perempuan lainnya yang turut berbagi pandangan.
Diskusi yang berlangsung dalam forum ini bertujuan tidak hanya untuk merayakan Hari Ibu, tetapi juga untuk menyoroti kontribusi perempuan dalam keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya. Dengan kolaborasi ini, diharapkan bisa tercipta solusi nyata untuk menghadapi krisis air.
Kesadaran akan pentingnya isu air dan peran perempuan di dalamnya harus terus diperkuat. Seiring dengan berkembangnya informasi dan data, harapan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil menjadi semakin dekat. Bersama-sama, kita harus berkomitmen untuk mewujudkan tujuan tersebut.














