Kisah pelarian Ronald Arthur Biggs, seorang penjahat legendaris Inggris, menjadi salah satu episode paling dikenal dalam sejarah kejahatan di negara tersebut. Ia terkenal karena keterlibatannya dalam perampokan kereta terbesar yang dikenal dengan nama Great Train Robbery, yang terjadi pada tahun 1963, membuatnya menjadi sorotan media internasional.
Perampokan tersebut merupakan daftar panjang kejahatan yang melibatkan perencanaan dan eksekusi yang cermat. Keberhasilan para perampok dalam menghilangkan uang tunai senilai jutaan pound dengan cara yang dramatis membuat mereka dihormati sekaligus ditakuti oleh masyarakat.
Ronald Biggs, yang dianggab “raja perampok”, berhasil menarik perhatian banyak orang dengan cara hidupnya yang kontroversial dan mengejutkan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi simbol dari kejahatan yang terorganisir dan pelarian yang penuh drama.
Pelarian Dramatis Ronald Biggs dari Penjara dan Apa yang Terjadi Selanjutnya
Setelah ditangkap pada tahun 1963, Ronald Biggs dijatuhi hukuman 30 tahun penjara. Keterikatannya dalam kejahatan mengingatkan banyak orang tentang risiko tinggi yang diambil oleh para penjahat untuk meraih kebebasan. Namun, pada tahun 1965, hanya dua tahun setelah penahanannya, ia berhasil melarikan diri dari Penjara Wandsworth, yang dikenal sebagai tempat dengan keamanan ketat.
Melarikan diri dari penjara tersebut bukanlah hal yang mudah. Bersama tiga narapidana lain, Biggs menjebol pintu penjara, memulai petualangan yang tidak terduga. Media internasional dengan cepat meliput pelariannya, menyoroti kehebohan yang mengikutinya dan menciptakan mitos baru tentang pelarian penjahat ini.
Banyak spekulasi muncul tentang tujuannya setelah kabur, termasuk informasi yang mengatakan bahwa ia sempat berada di Belgia dan Prancis. Keberadaannya di luar Inggris memicu pencarian yang lebih intensif oleh pihak berwenang.
Peran Badan Intelijen Indonesia dalam Pelacakan Ronald Biggs
Pelarian Biggs menarik perhatian banyak pihak, termasuk Badan Intelijen Negara (BIN) di Indonesia. Pada tahun 1970, ada informasi yang mengindikasikan bahwa seseorang bernama “Biggs” berasal dari Australia dan berada di Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa operasi intelijen internasional dapat berfungsi dengan baik meskipun terdapat kesulitan yang besar dalam identifikasi.
Badan tersebut melakukan pengintaian terhadap pria yang diduga Ronald Biggs, namun setelah beberapa waktu, mereka mengetahui bahwa dia bukanlah buronan yang dicari. Pria tersebut ternyata bernama Donald Biggs, seorang pendeta asal Amerika Serikat, yang tidak ada hubungannya dengan kejahatan yang dilakukan oleh Ronald Biggs.
Salah identifikasi seperti ini menunjukkan betapa kompleksnya masalah pelacakan individu yang buron. Keberadaan dan identitas yang kabur dari Ronald Biggs menjadi tantangan tersendiri bagi banyak negara yang terlibat dalam pencariannya.
Keberadaan Ronald Biggs di Brasil dan Dampaknya
Setelah menghindar dari pengawasan ketat di berbagai negara, Ronald Biggs memilih Brasil sebagai tempat berlindungnya. Keputusan ini diambil karena Brasil tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Inggris, memungkinkan Biggs untuk hidup tenang untuk beberapa waktu. Meski hidup dalam pelarian, ia tetap menarik perhatian publik yang tidak pernah melupakan kisahnya.
Di Brasil, Biggs menjalani kehidupan yang relatif damai, jauh dari bayang-bayang penjara dan tekanan pihak berwenang. Namun, kehidupannya sebagai buronan akan selalu menyisakan jejak, mengingat ketenarannya yang luas dan tindakan kriminal yang dilakukannya.
Pada tahun 2001, Ronald Biggs memutuskan untuk kembali ke Inggris secara sukarela. Kembalinya ia mengejutkan banyak orang, termasuk penangkapan kembali yang harus dijalaninya setelah hidup dalam pelarian selama lebih dari 30 tahun. Ia langsung dijebloskan ke penjara, mengakhiri perjalanan panjang yang penuh dengan liku-liku.
Kepulangan Ronald Biggs dan Kehidupan Selanjutnya
Setelah kembali ke Inggris, kondisi kesehatan Ronald Biggs semakin memburuk. Penjara tidak lagi menjadi tempat yang memungkinkan baginya untuk menjalani hidup dengan baik. Dengan kondisi yang memprihatinkan, ia kemudian dibebaskan dari penjara setelah menjalani hukuman singkat.
Perpindahannya ke Brasil dan keputusan untuk kembali ke Inggris menjadi bagian dari pencarian jati diri yang penuh perjuangan. Perjalanan hidupnya memunculkan banyak pertanyaan tentang keadilan dan pembalasan bagi mereka yang berbuat kesalahan.
Kisah Ronald Biggs tidak hanya berhenti pada pelariannya yang dramatis, tetapi juga dapat dianggap sebagai refleksi dari sistem hukum dan cara masyarakat memandang tindakan kriminal. Keberadaannya selamanya akan menjadi simbol dari pelanggaran dan penghindaran hukum yang tetap menarik perhatian publik.
















