Dalam era digital, peranan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) semakin penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun, terdapat isu mendasar yang mengemuka terkait bias yang mungkin terjadi pada teknologi ini, terutama bagaimana gender diwakili dan dipersepsikan melalui platform digital.
Kepala Program Magister Kajian Budaya dan Media dari sebuah universitas terkemuka mengungkapkan pandangannya mengenai hal ini. Dia berargumen bahwa teknologi digital dan AI tidak bersifat netral, melainkan dibentuk oleh data yang mencerminkan imajinasi sosial yang mungkin bias terhadap gender tertentu.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, ada kecenderungan untuk mengasosiasikan AI assistant dengan atribut feminin. Penamaan, suara, dan karakter yang sering digunakan menunjukkan faktor kepatuhan dan peran pelayanan, yang menimbulkan pertanyaan tentang posisi perempuan dalam konteks ini.
Pada suatu diskusi yang mendalam, dia menjelaskan bahwa representasi tersebut tidak hanya sekadar kesalahan teknis. “Ketika teknologi terus-menerus mereproduksi stereotip gender, hal ini berpotensi memperkuat pandangan keliru tentang posisi perempuan dalam masyarakat,” jelasnya.
Selanjutnya, penting untuk diingat bahwa konten yang dihasilkan oleh AI juga bisa melibatkan elemen kekerasan visual yang merugikan. Dalam pandangannya, praktik morphing, yang sering dianggap sebagai kelainan voyeurisme, lebih dari sekadar masalah individu; ia mencerminkan kekuatan struktural yang berkelanjutan.
Pentingnya Kesadaran Kolektif di Era Digital
Untuk memerangi bias ini, perlu adanya upaya kolektif dari masyarakat. Membangun kesadaran bersama terhadap penggunaan teknologi digital sangat penting agar pengguna dapat berubah dari sekadar penonton menjadi aktor aktif di dunia maya.
“Sadar akan dampak setiap klik, suka, dan berbagi adalah langkah awal yang perlu diambil oleh semua orang,” kata dia. Kesadaran ini tidak hanya menyangkut tindakan individu, tetapi juga tanggung jawab sosial dalam konsumsi konten.
Ratna, sebagai pembicara dalam forum tersebut, mengajak masyarakat untuk lebih cerdas dan kritis. “Dengan melakukan tindakan kecil seperti tidak membagikan informasi palsu, kita bisa mulai mengubah narasi yang ada,” tambahnya. Ini adalah langkah penting untuk membangun kembali kepercayaan dan integritas informasi di platform digital.
Selain itu, kesadaran kolektif juga harus mencakup dampak besar dari manipulasi teknologi. Ratna menambahkan, “Konten yang dilihat dan disebarkan memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang kita terhadap gender dan identitas sosial.” Oleh karena itu, penting untuk mengelola informasi yang dikonsumsi dan dibagikan.
Di tengah dinamika informasi yang cepat ini, masyarakat tidak hanya perlu mengikuti, tetapi juga harus dapat memilah mana konten yang berharga dan mana yang dapat berpotensi merugikan. Dengan begitu, masyarakat dapat berkontribusi secara positif dalam memperjuangkan kesetaraan gender di ruang digital.
Tanggung Jawab Pengguna dalam Era Penyebaran Informasi
Setiap individu yang aktif di media sosial memegang tanggung jawab atas informasi yang mereka sebarkan. Tindakan untuk menyukai atau membagikan konten tidak bisa dianggap sepele, karena ia dapat mengubah persepsi orang lain terhadap isu tertentu.
“Kita perlu menyadari dampak dari setiap tindakan yang kita ambil secara online,” tegas Ratna. Tanggung jawab ini tidak hanya bersifat moral tetapi juga etis, karena menyangkut hubungan sosial di antara pengguna media digital.
Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa teknologi ikut memperkuat atau meruntuhkan stereotip yang ada. Ratna menekankan, “Sebagai pengguna, kita memiliki kekuatan untuk menolak atau menerima informasi yang bias.” Hal ini sejalan dengan kebangkitan kesadaran kritis di kalangan masyarakat.
Masyarakat harus terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan ini. Membangun kelompok diskusi atau komunitas online yang mengedukasi mengenai konten yang dikonsumsi dapat menjadi salah satu solusi. Ini akan memperkuat jaringan sosial yang peka terhadap isu-isu penting, seperti gender.
Kesempatan untuk perubahan selalu ada, jika kita bersedia untuk berusaha. Dengan strategi yang bijak dan tindakan yang konsisten, masyarakat bisa mengubah cara pandang terhadap peran gender di dunia digital.
Menjadi Pengguna Teknologi yang Cerdas dan Kritis
Penting bagi pengguna teknologi untuk mengembangkan sikap kritis terhadap informasi yang mereka terima. Ini melibatkan kemampuan untuk tidak hanya memahami isu yang ada, tetapi juga mengaitkannya dengan konteks sosial yang lebih luas.
“Pendidikan dan kesadaran adalah kunci untuk menjadi pengguna yang lebih cerdas,” ujar Ratna. Setiap individu dapat berperan dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih kondusif dan seimbang.
Melibatkan diri dalam kegiatan edukatif dan diskusi mengenai etik digital dapat memperkaya perspektif pengguna. “Menggunakan teknologi dengan bijak berarti mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan kita,” imbuhnya. Kesadaran akan dampak sosial dari teknologi dapat membantu masyarakat beradaptasi dengan lebih baik.
Selain itu, penting untuk memiliki keberanian dalam menyuarakan pendapat. Ketika banyak orang memilih untuk tidak berbicara, justru akan memberi ruang bagi penyebaran informasi yang tidak akurat. “Suara kolektif dapat menjadi alat yang kuat dalam melawan diskriminasi dan bias,” tambahnya.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menjadi pecandu teknologi yang pasif. Ini adalah panggilan untuk bertindak agar semua orang dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan digital yang inklusif dan adil bagi semua pihak.















