Bandung bjb Tandamata saat ini berada dalam situasi yang cukup menegangkan dalam perjalanannya menuju final four Proliga 2026. Klub yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini harus menghadapi kenyataan pahit setelah kalah dari Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia dengan skor telak 0-3, yang berlangsung di GOR Utama Bojonegoro, Jawa Timur, pada malam harinya di tanggal 15 Februari 2026.
Hasil buruk tersebut membuat posisi Bandung bjb di klasemen sementara kelompok putri tetap stagnan di urutan keenam. Dengan mengumpulkan total 12 poin dari sepuluh pertandingan yang telah dilalui, mereka kini terpaut dua poin dari Jakarta Popsivo Polwan yang berada di posisi kelima, setelah JPP sebelumnya juga mengalami kekalahan oleh Jakarta Pertamina Enduro.
Kekalahan ini mencerminkan bahwa meskipun ada harapan, tim tidak mampu memanfaatkan peluang yang ada. Kekecewaan tertinggal poin dari JPP seharusnya bisa menjadi motivasi, namun gagal diwujudkan saat mereka menghadapi GPP.
Analisis Pertandingan: Keunggulan Tak Terduga dari GPP
Cukup jelas bahwa kekalahan Bandung bjb Tandamata kali ini tak terlepas dari faktor pengalaman dan kualitas pemain asing Gresik. Mereka memiliki dua pemain asing, Oleksandra Bytsenko dan Annie Mitchem, yang terbukti sangat efektif dalam permainan, jauh di atas rata-rata pemain lokal.
Pelatih Risco Herlambang Matulessy mengakui bahwa timnya kalah dalam segi materi pemain asing. Dengan pengalaman bertanding di Proliga yang lebih banyak, para pemain asing GPP mampu memberikan performa yang solid baik di lini serang maupun pertahanan.
Menurut Risco, mereka telah menyiapkan strategi untuk menghadapi GPP, namun banyaknya kesalahan dalam pertahanan membuat rencana itu gagal. Padahal, jika pertahanan mereka bisa bermain lebih baik, hasilnya mungkin akan berbeda. Tim lawan mampu memanfaatkan setiap celah yang ada.
Pertandingan Awal: Harapan yang Surut
Bandung bjb Tandamata memulai pertandingan dengan optimisme setelah kemenangan sebelumnya melawan tim MFN dengan skor 3-1. Mereka tampak mampu mengambil inisiatif di awal set pembuka, mencoba untuk mendominasi jalannya permainan.
Akan tetapi, seiring dengan berlangsungnya pertandingan, GPP mulai memperkecil jarak skor dan bahkan berhasil membalikkan keadaan menjadi 13-12. Dari titik tersebut, momentum GPP semakin kuat, dan mereka mampu menjaga keunggulan hingga menutup set pertama dengan skor 25-20.
Pembalikan keadaan ini menunjukkan betapa pentingnya momentum dalam sebuah pertandingan. Secara mental, ini menjadi dampak besar bagi Bandung bjb, yang harus berjuang mencari cara untuk kembali ke jalur kemenangan.
Refleksi dan Harapan untuk Masa Depan
Kekalahan ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh anggota tim Bandung bjb, baik pemain maupun pelatih. Bagaimana cara memperbaiki penampilan dan strategi agar dapat lebih bersaing di laga-laga mendatang menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab.
Dari segi tim, meningkatkan sinergi dan komunikasi di dalam permainan menjadi hal yang krusial. Tim yang solid adalah tim yang bisa berbagi beban satu sama lain, terutama dalam situasi sulit, seperti yang mereka hadapi saat ini.
Ke depan, mereka perlu menumbuhkan mental juara dan keberanian untuk menghadapi setiap laga dengan lebih percaya diri, sambil belajar dari kesalahan yang telah dibuat. Memanfaatkan keunggulan pada setiap potensi pemain dan memperkuat pertahanan tentu menjadi langkah awal yang harus diambil.














