Bencana yang melanda beberapa wilayah di Provinsi Aceh telah menimbulkan dampak yang sangat serius, terutama bagi ekosistem dan upaya konservasi di wilayah tersebut. Sejak 26 November lalu, banjir bandang dan longsor telah menghancurkan berbagai fasilitas, termasuk salah satu pusat penelitian paling penting bagi orangutan, yaitu Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe.
Stasiun ini, yang terletak di kawasan Resort Lawe Gurah, merupakan salah satu pusat penelitian orangutan tertua di dunia, didirikan pada tahun 1971. Kerusakan yang terjadi mengakibatkan penutupan sementara stasiun hingga proses pemulihan selesai dilakukan, demi menjaga keselamatan para peneliti dan pengunjung.
Penutupan ini tentu saja membawa dampak yang signifikan bagi dunia studi konservasi orangutan, mengingat perannya yang vital dalam penelitian selama ini. Selain itu, penutupan menyebabkan terganggunya kegiatan-kegiatan ilmiah yang berfokus pada pemahaman lebih dalam mengenai perilaku dan konservasi orangutan Sumatra.
Kondisi Darurat Pasca Bencana di Stasiun Penelitian
Setelah bencana, staf yang berada di lokasi menghadapi situasi darurat yang sangat menegangkan. Mereka berusaha membangun penghalang untuk mencegah air masuk, namun situasi menjadi sangat kritis ketika air sungai mulai naik dengan cepat. Pada sore hari, kondisi menjadi semakin buruk, dan air dengan derasnya menerobos masuk ke dalam stasiun.
Empat petugas yang berada di lokasi saat itu berhasil selamat setelah melakukan evakuasi ke Desa Ketambe. Meskipun mereka selamat, kondisi stasiun sangat mengkhawatirkan, dengan seluruh sarana dan prasarana luluh lantak terendam banjir.
Ruang pertemuan, ruang pustaka, dan berbagai fasilitas lain di SP Ketambe mengalami kerusakan parah. Dapur umum dan fasilitas air bersih juga hancur, menambah beban yang harus ditanggung oleh pengelola stasiun dalam upaya pemulihan setelah bencana ini.
Upaya Pemulihan dan Dukungan dari Pihak Berwenang
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah menyatakan komitmennya untuk memulihkan stasiun penelitian ini. Dalam rilisnya, mereka menekankan pentingnya kolaborasi dengan para peneliti dan mitra konservasi untuk merancang rencana kerja lapangan yang sesuai dengan kondisi pasca-bencana.
Di tengah ketidakpastian ini, dukungan dari komunitas ilmiah global sangat diharapkan. Para peneliti diharapkan dapat menyesuaikan rencana mereka untuk mengoptimalkan proses pemulihan dan memastikan bahwa upaya konservasi tetap berjalan meskipun dalam situasi yang tidak menentu.
Komunitas penelitian berharap agar SP Ketambe dapat segera beroperasi kembali. Mereka menyadari bahwa tantangan yang dihadapi saat ini bukanlah hal yang mudah, tetapi berkat kerjasama dan semangat kolaborasi, mereka yakin masa depan konservasi di lokasi tersebut dapat terjaga.
Signifikansi Sejarah Stasiun Penelitian Orangutan Ketambe
Sejak didirikan, SP Ketambe telah terlibat dalam riset dan publikasi ribuan tulisan ilmiah yang memberikan wawasan berharga tentang orangutan dan habitatnya. Stasiun ini tidak hanya menjadi tempat studi, tetapi juga melahirkan banyak pakar konservasi yang berkontribusi pada pemahaman tentang primata serta upaya pelestarian satwa.
Keterlibatan banyak lembaga, termasuk Pusat Penelitian Primata dan WWF, telah membantu menjadikan SP Ketambe sebagai salah satu institusi penting dalam studi konservasi dunia. Kerusakan yang dialami saat ini diharapkan tidak akan mematahkan semangat untuk terus berkontribusi dalam melindungi orangutan Sumatra.
Dengan lebih dari lima dekade pengalaman, SP Ketambe memiliki reputasi yang kuat dan berpengaruh dalam komunitas internasional. Oleh karena itu, upaya pemulihan yang dilakukan kini tidak hanya krusial untuk stasiun itu sendiri, tetapi juga untuk masa depan penelitian dan pelestarian orangutan di seluruh dunia.














