Jakarta, 20 Januari 2026 – Peneliti dari CORE Indonesia dan Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB), Andreas Santosa, memperingatkan tentang pentingnya kesiapan menghadapi fenomena El Niño. Di mana El Niño dapat berdampak langsung pada produksi pertanian, khususnya padi, yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Data menunjukkan pola yang berbeda antara La Niña dan El Niño. La Niña biasanya membantu meningkatkan hasil panen, sementara El Niño sering mengakibatkan penurunan,” ujarnya dalam diskusi yang berlangsung di CORE Indonesia.
Andreas menambahkan bahwa El Niño diperkirakan akan berlangsung selama satu tahun, dimulai dari pertengahan tahun 2026 hingga pertengahan tahun 2027. Ini menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat agar dapat bersiap menghadapi potensi dampak yang merugikan bagi sektor pertanian.
Beragam langkah perlu diambil untuk mengatasi tantangan yang mungkin muncul akibat fenomena tersebut. Khususnya, dalam konteks produksi beras yang diperkirakan dapat menurun hingga lima persen akibat perubahan iklim ini.
Kesiapsiagaan dalam menghadapi El Niño menjadi sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah yang terencana dan berbasis data agar dapat memitigasi risiko yang ada.
Kesiapan Pemerintah Menghadapi El Niño di Indonesia
Pemerintah perlu melakukan perbaikan dalam tata kelola pangan yang ada saat ini. Kebijakan yang diambil harus berbasis fakta dan akurat agar dalam penyusunan strategi pertanian dapat lebih efektif.
Data penelitian yang berasal dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa El Niño berpotensi menyebabkan krisis pangan. Dalam hal ini, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menginterpretasi data yang valid demi kepentingan masyarakat luas.
Selain itu, ketersediaan informasi cuaca yang akurat juga wajib diperhatikan. Perbedaan informasi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga-lembaga internasional perlu disikapi dengan serius untuk pengambilan keputusan yang tepat.
BMKG sebelumnya menyatakan bahwa kondisi iklim pada tahun 2026 akan normal. Namun, data dari lembaga internasional menunjukkan prediksi yang berbeda, yaitu terjadinya El Niño. Situasi seperti ini harus menjadi perhatian utama semua pihak.
Pemerintah harus memprioritaskan komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai lembaga penelitian untuk memastikan bahwa kebijakan yang dikeluarkan dapat sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan.
Pentingnya Infrastruktur dalam Menghadapi Krisis Iklim
Strategi mitigasi yang kuat juga perlu melibatkan pembangunan infrastruktur yang memadai. Penyediaan alat dan fasilitas yang mendukung produksi pangan sangat krusial dalam periode krisis.
Andreas menyarankan agar pemerintah menyiapkan infrastruktur air, seperti pompa dan sumur dalam. Hal ini sangat penting untuk daerah-daerah yang terisolasi dari sumber air yang mencukupi.
Infrastruktur tersebut tidak hanya akan membantu petani dalam proses pertanian, tetapi juga memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ketersediaan air yang cukup akan sangat berpengaruh terhadap pertanian.
Prioritas perlu diberikan, terutama untuk daerah yang paling rawan terkena dampak kemarau ekstrem akibat El Niño. Dengan adanya infrastruktur yang baik, ketahanan pangan dapat lebih terjamin.
Langkah-langkah ini harus didukung oleh alokasi anggaran yang sesuai. Dengan perencanaan yang matang, risiko kerugian dari dampak El Niño dapat diminimalisasi.
Pentingnya Kerja Sama Antar Lembaga dan Masyarakat
Kerja sama antar lembaga pemerintahan dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi ancaman perubahan iklim ini. Berbagai elemen masyarakat, termasuk petani, harus dilibatkan dalam perencanaan dan implementasi kebijakan pangan.
Pendidikan dan pelatihan juga perlu diberikan kepada para petani untuk meningkatkan kesadaran mengenai perubahan iklim. Pengetahuan tentang cara bertani yang berkelanjutan dapat membantu mereka beradaptasi dengan perubahan kondisi cuaca.
Rapat-rapat koordinasi antara kementerian terkait juga perlu dilakukan untuk menyusun rencana aksi yang terintegrasi. Setiap lembaga harus memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas dalam memitigasi dampak El Niño.
Partisipasi dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat sipil, akan menciptakan ekosistem yang saling mendukung dalam menghadapi tantangan ini. Dengan sinergi yang baik, ketahanan pangan dapat terjaga dan dampak negatif dapat diminimalkan.
Dengan demikian, menghadapi El Niño bukanlah tanggung jawab pemerintah semata. Seluruh komponen bangsa harus bersinergi untuk mengatasi tantangan yang ada, demi masa depan yang lebih baik.















