Di balik dinding RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, perjuangan untuk menyelamatkan nyawa tidak pernah berhenti. Meskipun bencana telah mengganggu akses dan infrastruktur, rumah sakit ini tetap menjadi harapan bagi masyarakat yang membutuhkan. Dalam suasana seperti ini, kerjasama antara berbagai sektor sangat penting untuk memastikan pelayanan kesehatan berlangsung tanpa terputus.
Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, dr. Andika Putra, menekankan pentingnya stabilitas untuk melanjutkan layanan medis setelah bencana. Ketersediaan energi dan air bersih menjadi fondasi utama untuk memulai kembali aktivitas rumah sakit dan mengatasi tantangan yang ada.
Pentingnya kestabilan pasokan energi dalam fase pemulihan tidak dapat diabaikan. Listrik menjadi krusial untuk menjaga agar peralatan medis tetap beroperasi, dan dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan lancar.
Pentingnya Infrastruktur Kesehatan Pasca Bencana di Aceh Tamiang
Pascabencana, RSUD Muda Setia Aceh Tamiang dapat dibuka kembali pada 9 Desember. Hingga akhir tahun, RSUD ini telah melayani sebanyak 507 pasien rawat inap, serta 2.350 pasien rawat jalan, menunjukkan betapa vitalnya peran rumah sakit dalam komunitas ini.
RSUD bukan hanya sekadar tempat perawatan, tetapi juga bagian penting dalam struktur kesehatan masyarakat. Dengan adanya 48 pasien yang menjalani operasi dan banyaknya pasien yang ditangani di Unit Gawat Darurat, keberlanjutan layanan menjadi tantangan tersendiri dalam situasi yang sulit.
Harapan Dinas Kesehatan adalah agar semua pihak dapat berkolaborasi untuk mendukung pasokan air bersih dan bahan bakar. Dalam situasi darurat, bantuan dengan cepat dapat menentukan perbedaan antara kehidupan dan kematian bagi pasien yang membutuhkan perawatan segera.
Peran Pertamina dalam Memastikan Ketersediaan Energi dan Sanitasi
Pentingnya dukungan dari Pertamina menjadi sangat nyata dalam konteks layanan kesehatan. Pertamina telah menyuplai satu hingga dua tangki air bersih setiap hari untuk mendukung proses sanitasi, yang menjadi kebutuhan utama bagi rumah sakit yang beroperasi pada masa pemulihan ini.
Dukungan yang terus-menerus dalam bentuk suplai energi, baik dari bahan bakar untuk genset maupun bantuan air, menunjukkan komitmen Pertamina untuk membantu masyarakat pascabencana. Bagi dr. Andika, keterlibatan ini sangat berarti dalam menjaga nyawa pasien di rumah sakit.
“Kami sangat menghargai semua upaya yang dilakukan untuk memastikan rumah sakit dapat beroperasi,” ungkapnya. Pasokan yang stabil mempengaruhi kualitas layanan rumah sakit secara keseluruhan dan sangat diperlukan untuk pemulihan yang efektif.
Dukungan Sosial dan Lingkungan dari Perusahaan untuk Masyarakat
Keterlibatan Pertamina di masyarakat juga dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjaga layanan publik seperti rumah sakit agar tetap beroperasi merupakan tanggung jawab mereka dalam situasi darurat.
Komitmen Pertamina tidak hanya terbatas pada penyediaan energi, tetapi juga menjangkau kebutuhan nutrisi bagi para tenaga medis dan pasien. Dapur umum yang didirikan untuk menyediakan makanan bergizi tiga kali sehari mengidentifikasi kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
Dukungan logistik yang diberikan memungkinkan tenaga medis untuk fokus pada penyembuhan pasien. Keberadaan makanan bergizi sangat penting dalam mendukung kinerja tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan.
Dengan segala tantangan yang ada, kerjasama antar berbagai pihak menjadi kunci dalam memastikan layanan kesehatan tetap berjalan. Pertamina, bersama dengan Dinas Kesehatan, terus mencari cara untuk memperbaiki infrastruktur dan menyediakan dukungan yang diperlukan untuk membantu masyarakat. Energi bukan sekadar komoditas, tetapi simbol harapan dan kehidupan yang harus dijaga.
















