Film horor Indonesia terbaru, Lastri: Arwah Kembang Desa, telah menarik perhatian banyak penggemar film. Karya ini diangkat dari kisah urban legend yang berkembang dalam masyarakat Pati, Jawa Tengah, serta melibatkan banyak bintang terkenal.
Di tengah ramainya industri perfilman, film ini menjadi istimewa karena membawa kisah yang memadukan mitos dan kenyataan. Bukan hanya sekadar hiburan, Lastri: Arwah Kembang Desa juga menawarkan pandangan yang lebih dalam mengenai budaya lokal.
Film ini menghadirkan momen emosional ketika dua generasi aktor, Gary Iskak dan putranya Nando Hilmy, berbagi layar untuk pertama kali. Kesempatan ini memberikan nuansa yang berbeda, di mana hubungan ayah dan anak terpancar dalam setiap adegan.
Film Pertama yang Menggabungkan Generasi di Layar Lebar
Pertemuan antara Gary Iskak dan Nando Hilmy di layar lebar menjadi sorotan. Nando mengungkapkan bagaimana pengalaman itu merupakan kenangan berharga dalam hidupnya. Menurutnya, beradu akting dengan sang ayah bukan hanya tentang profesionalisme, tetapi juga menyimpan banyak kenangan emosional.
Pada kesempatan tersebut, Nando berkata, “Ini bukan hanya soal film, tetapi tentang momen yang akan saya ingat sepanjang hidup.” Hubungan mereka dalam proyek ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan keluarga di dunia seni peran.
Bukan hanya sekadar sebuah film, tapi juga sebuah jembatan antar generasi yang memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan satu sama lain. Penonton pun bisa merasakan energi positif yang terpancar antara mereka.
Duka yang Menyelimuti Proyek Ini
Sayangnya, momen tersebut sempat diselimuti duka ketika Gary Iskak meninggal dunia. Dalam usia 51 tahun, ia meninggalkan banyak karya yang akan dikenang, termasuk Lastri: Arwah Kembang Desa. Sutradara Hendri Tivo tidak bisa menyembunyikan kesedihan saat mengenang dedikasi Gary di lokasi syuting.
Dalam sebuah wawancara, Tivo mencatat betapa profesional dan totalitas Gary dalam menjalani peran. Meskipun dalam kondisi kesehatan yang tak prima, semangat Gary untuk melaksanakan tugasnya sebagai aktor tak pernah pudar. Dedikasinya akan terus hidup dalam hati orang-orang yang pernah bekerja bersamanya.
Bagi Tivo, momen berharga saat bekerja dengan Gary bukan hanya sebagai seorang aktor, tetapi juga sebagai seorang teman yang senantiasa bersemangat. Kenangan ini akan senantiasa dikenang baik oleh kru maupun penonton film.
Momen Emosional yang Tak Terlupakan
Kehadiran Nando dan Gary di satu layar menciptakan momen yang kuat. Emosi yang tergambar dalam setiap adegan menunjukkan kedekatan mereka sebagai ayah dan anak. Menurut Tivo, suasana di lokasi syuting sangat terasa hangat dan penuh energi.
Kontribusi Gary tidak hanya terlihat dalam aktingnya, tetapi juga dalam menciptakan atmosfer di lokasi syuting. Setiap anggota kru merasa terinspirasi oleh semangat kerja dan dedikasi Gary. Semua orang merasakan kebersamaan yang kuat selama proses syuting.
Film ini direncanakan tayang di bioskop pada kuartal kedua tahun 2026. Momen-momen emosional yang tercipta selama pembuatan film menjadi kenangan abadi yang akan dikenang oleh semua yang terlibat.
Suasana Syuting yang Hidup dan Nyaman
Pemeran utama lainnya, Hana Saraswati, juga memberikan kesan mendalam tentang kerjasamanya dengan Gary. Menurutnya, Gary adalah sosok profesional yang selalu membuat suasana set jadi hidup. Kehadirannya membawa semangat positif bagi seluruh kru.
“Gary selalu menciptakan lingkungan yang nyaman untuk berakting. Dia memberikan kami ruang untuk berinovasi,” ungkap Hana dengan penuh rasa syukur. Energi positifnya di set sangat membantu dalam menampilkan performa terbaik.”
Kehangatan yang ditunjukkan Gary menciptakan suasana yang mendukung. Tim produksi merasa termotivasi berkat kehadirannya, menciptakan sinergi yang kuat di antara mereka. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran seorang aktor dalam membangun kerja sama yang harmonis.
















