Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkap rencana pemulihan kembali sawah yang rusak terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sudaryono mencatat, ada lebih dari 70 ribu hektare sawah yang terdampak bencana Sumatera. 15-20 ribu hektare di antaranya lenyap dan gagal panen atau puso.
“Nah yang puso itu, yang 15-20 ribu hektare itulah kemudian nanti pemerintah datang, kan itu sudah tidak bentuk sawah lagi, nanti kita ada cetak sawah, kita bikinkan sawahnya, kita kasih benihnya, kita kasih alatnya, jadi dikembalikan,” ungkap Sudaryono beberapa waktu lalu.
Pemulihan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan di wilayah yang terdampak. Pemerintah juga berencana untuk bekerja sama dengan berbagai pihak terkait dalam proses rehabilitasi ini.
Strategi Pemulihan Sawah yang Terdampak Banjir dan Longsor
Pemulihan sawah yang terdampak bencana banjir dan longsor memerlukan pendekatan yang beragam dan terencana. Salah satu strategi utama adalah mencetak sawah baru, terutama di lahan yang sebelumnya tidak dapat tergarap akibat bencana alam.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan memberikan dukungan berupa benih unggul dan alat pertanian modern. Ini bukan hanya akan mempercepat proses rehabilitasi, tetapi juga meningkatkan produktivitas pertanian di masa mendatang.
Selain itu, pemerintah juga akan melibatkan masyarakat lokal dalam proses pemulihan ini. Partisipasi masyarakat diharapkan dapat memperkuat kearifan lokal dan memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil sesuai dengan kebutuhan mereka.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Pemulihan Pertanian
Pemerintah berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam pemulihan kawasan pertanian yang terkena dampak. Dukungan dari kementerian terkait, seperti penyuluhan pertanian, akan sangat penting dalam mendampingi petani setempat.
Masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif dalam program-program pertanian yang dirancang. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, proses pemulihan bisa berlangsung lebih efektif dan cepat.
Program-program pendidikan bagi petani mengenai teknik pertanian yang lebih tahan bencana juga akan digalakkan. Ini bertujuan untuk membangun ketahanan pertanian di masa depan agar bencana serupa tidak mengakibatkan dampak yang sama.
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Pertanian di Indonesia
Perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian di Indonesia. Dampak dari perubahan iklim yang ekstrem, seperti banjir dan kekeringan, sering kali menyebabkan kerugian besar bagi petani.
Penting untuk menerapkan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan cuaca. Penelitian dan pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap ekstrem cuaca perlu didorong demi menjaga produksi pertanian.
Pemerintah juga perlu memperkuat infrastruktur pertanian, termasuk sistem irigasi yang lebih baik. Hal ini akan membantu petani dalam mengatasi masalah kekurangan air dan meningkatkan ketahanan selama musim kemarau.














